Kenangan di Sungai Bulan
Cari Berita

Advertisement

Kenangan di Sungai Bulan

Minggu, 22 Januari 2017

Kapal tambang besar yang memuat puluhan penumpang membawa kami menyusuri sungai besar. Melaju, sesekali oleng ke kiri dan ke kanan. Sibuk membelai sungai pasang dengan nyanyian mesin.
Deretan pohon karet mengantar perjalanan. Petani jagung turut mengusik perhatian kami. Kebun hijau menyentuh selaput mata. Sesekali terselip nyanyi burung di atas akasia gundul.
Desa Jangkang , sebuah desa di antara Sungai Kapuas dengan penduduk yang mayoritas terdiri dari transmigran asal Pulau Jawa. Desa ini menjadi tujuan kami. Desa yang akan kami huni dalam waktu dua bulan. Desa yang akan menjadi tempat kami mengabdi sebagai mahasiswa.
Bangunan bekas puskesmas ini bukan hanya menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan, tetapi juga sebagai tempat menyatukan hati satu sama lainnya. Di tempat mungil yang telah menjadi rumah bagi kami, menjadi markas kebesaran kami selama dua bulan.
Bangunan mungil ini terasa indah karena kebersamaan, kamar sempit serta pengap tak begitu hirau karena kebersamaan adalah lebih indah dibandingkan kamar luar berfasilitas AC, dinding warna warni cerah, lantai keramik, ruang dapur mewah, shower di kamar mandi, dan sebagainya.
Awalnya terasa aneh, hidup bersama dengan orang-orang yang belum begitu di kenal, kecuali dalam lingkup kampus. Lambat laun, semakin hari kami semakin dekat dan seakan seperti satu keluarga.
Pagi itu, tepatnya pagi minggu cuaca lumayan cerah. Matahari menampakkan raut gembiranya tepat di depan posko kediaman kami. Sayang jika hari ini dilewatkan  hanya dengan duduk menatap laptop, berguling di kamar, atau mendengarkan musik. Kami berencana untuk mengisi waktu senggang ini dengan jalan-jalan.
Rencana yang cukup menyenangkan, namun alangkah sayangnya kami mengalami kendala. Tak memungkinkan untuk kami mewujudkan rencana itu. Sembilan orang tak mungkin di bawa dengan tiga motor. Awalnya hanya ada dua motor, satu motor berhasil di pinjam dari tetangga.
Akhirnya lima orang dari kami berangkat. Dengan berat hati terpaksa mengizinkan para pria untuk menggunakan kesempatan jalan-jalan tersebut. Tinggallah empat orang wanita di posko mungil ini.
Hampir seharian mereka tak kunjung pulang. Senja sore memanggil dengan awan jingga di ufuk barat. Yang paling membuat suasana semakin keras adalah tetangga kami yang motornya di pinjam pergi menagih ke rumah. Katanya mereka telah berjanji akan mengembalikan motor tersebut sebelum jam empat sore karena motor itu akan di bawa oleh anaknya.
Kami sibuk menghubungi mereka, menelpon, sms. Namun jawaban mereka sangat tidak menyenangkan. Kami diminta membujuk Ibu Kadir ,nama tetangga kami itu agar menunggu beberapa jam untuk mengembalikan motor tersebut. Mereka belum bisa pulang dengan alasan bertemu dengan Camat Kubu serta Dosen pemantau kami. Mereka di tahan untuk berkunjung ke rumah Pak Camat. Inilah puncak kekesalan kami.
Waktu berjalan sampai akhirnya mereka datang membawa raut wajah seakan tertangkap basah sedang menyembelih ayam tetangga.  Membujuk, merayu, memelas. Tanpa senyum dan kata sedikitpun kami berlalu menyisakan kesal dan sesal di antara mereka.
Membawa rasa geram yang tak terlampiaskan kami berjalan lurus ke arah kiri posko. Tanpa ragu kami berhenti di sebuah rumah di samping kantor Kepala Desa. Rumah keluarga bapak Saridi. Di sana spontan kami di sambut dengan antusias oleh ibu Upi, istri dari Bapak Saridi. Keluarga itu tampak senang kami datang berkunjung, karena setelah beberapa hari menempati Jangkang baru hari itu kami sempat menyambangi rumah mereka. Sebelumnya kami sempat berkenalan dengan mereka pada saat kunjungan ke Sekolah Dasar yang terletak di sebelah kanan rumah Bapak Saridi dan Ibu Upi. Keduanya adalah tenaga pengajar di Sekolah Dasar Negeri tersebut.
Sambil menyeruput teh serta roti gandum, kami semua berbincang dan saling bercerita. Sampai beberapa saat kemudian terdengar suara motor yang tak asing dari luar. Ketua kelompok kami Ipank bersama dengan suhardi menyusul kami dengan raut wajah memelas. Mereka membujuk kami untuk pulang ke posko.
Kami sengaja tak menghiraukan mereka, agar mereka tak mengulangi perbuatan itu lagi. Meninggalkan empat orang perempuan di posko, yang kebetulan pada saat itu sedang hangatnya cerita angker.Sedangkan mereka bersenang-senang di luar sana. Mereka berdua pulang dan berpesan untuk tidak pulang terlalu malam.
Sekembalinya kami ke posko, suasana masih menggambarkan raut-raut wajah bersalah. Terlebih dengan membawa berita mereka disuguhi makanan enak di rumah Pak Camat. Dengan foto-foto mangkuk penuh kepiting. Mereka berjanji akan menebus kesalahan mereka untuk membawa kami jalan-jalan.

Kebersamaan menjadikan kami saudara. Membuat kami terasa dekat. Meskipun kesal, geram, dan marah terkadang menjadi bumbu namun tak ada yang membuat kami lupa bahwa persaudaraan itu begitu penting.