Selain Kesabaran, Ini Yang Dibutuhkan Orang Tua Saat Menemani Anak Belajar Di Rumah -->
Cari Berita

Advertisement

Selain Kesabaran, Ini Yang Dibutuhkan Orang Tua Saat Menemani Anak Belajar Di Rumah

Minggu, 30 Agustus 2020

belajar di rumah

Agaknya sistem pembelajaran jarak jauh harus berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Sebab korban virus Covid-19 masih terus melonjak setiap harinya. Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh bagi orang tua-orang tua dengan anak yang masih sekolah. Termasuk saya. Saat ini saya memiliki anak yang baru kelas satu sekolah dasar. Kabupaten tempat tinggal kami merupakan daerah yang cukup mengkhawatirkan. Meskipun tidak termasuk zona kuning tapi tetap harus hati-hati dalam melakukan kegiatan di luar rumah. Apalagi sekolah yang mayoritas di datangi oleh anak-anak yang tentunya rentan tertular virus. 


Berbagai macam kesulitan dan keluhan pun dialami oleh pelajar dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Mulai dari tingkat usia dini hingga sekolah menengah. Terutama kendala dalam hal fasilitas, seperti ketiadaan smartphone yang memadai, sinyal yang tidak terjangkau di daerah-daerah tertentu, dan kurangnya kemampuan untuk membeli kuota internet setiap harinya. 


Namun, seiring kemampuan kita dalam beradaptasi dengan keadaan pandemi ini, banyak juga solusi yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang berwenang. Seperti adanya kuota murah khusus untuk mengakses aplikasi pembelajaran dan keluwesan para tenaga pendidik dan kependidikan dalam menghadapi berbagai kesulitan serta keluhan yang dialami peserta didik. Sehingga kegiatan pembelajaran yang seharusnya disampaikan secara tatap muka dapat dilaksanakan dengan baik meskipun melalui pembelajaran jarak jauh. 


Bukan lagi menjadi rahasia bahwa menjadi guru bagi anak-anak di rumah tidaklah mudah. Apalagi setiap orang tua pasti memiliki tugas dan kesibukan tersendiri. Tetapi tentunya tetap harus mengutamakan pendidikan anak yang saat ini mengharuskan belajar dari rumah. 


Untuk itu, setiap orang tua harus menyiapkan fasilitas yang menunjang dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah. Dalam hal ini fasilitas yang utama tentunya ponsel pintar yang didukung dengan kapasitas memori yang mampu menampung berbagai aplikasi pembelajaran. 


Kalau dilihat dari sosial media memang sudah lumrah jika saat ini semua orang dari segala usia memiliki smartphone. Baik di facebook. instagram, twitter dan sebagainya sudah hampir semua orang bisa punya akun dan semacamnya. Tetapi jika dicermati di wilayah seperti perkampungan dan pelosok yang ada di daerah-daerah tertentu masih ada yang belum memiliki ponsel pintar. Kalaupun ada mungkin hanya satu buah dalam satu keluarga inti. Belum lagi kendala sinyal dan kuota yang terbatas.

 

Untungnya, saya sebagai orang tua memiliki anak yang masih kelas satu sekolah dasar. Jadi, cukup lah aplikasi Whatsapp menjadi media pembelajaran jarak jauh untuknya. Selain itu, pihak sekolah juga menawarkan pembelajaran luring (luar jaringan) yang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan fasilitas dalam pembelajaran daring. 


Kemudahan fasilitas dan keluwesan tak serta merta membuat saya sebagai orang tua menjadi santai dalam menjalankan peran sebagai pengganti guru di rumah. Sama seperti orang tua-orang tua lainnya terutama ibu-ibu yang paling banyak berperan di rumah tentunya paling sering menghadapi anak-anak belajar. 


Sebagai ibu yang hampir setiap hari berada di rumah saya tidak terlalu kaget dalam kegiatan belajar dengan anak. Sebab sejak usia dini saya sudah sering mengajarinya menulis, membaca, mengaji dan beribadah. Namun, sekali lagi bukan berarti bisa bersantai ria.


Sebelum masuk sekolah dasar si sulung sudah saya ajari beberapa pelajaran dasar seperti huruf, angka, mengeja suku kata dan menghitung. Selain itu dia juga banyak belajar dari lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Meski begitu, saya tidak memiliki target anak harus bisa membaca sebelum sekolah atau lebih dari itu. Saya mengajari dengan metode belajar sambil bermain. Tanpa memaksa anak untuk harus pandai tapi lebih kepada pengenalan dasar.


Saat ini si sulung sudah pandai membaca meski hanya mengeja. Dia juga sudah pandai berhitung penambahan dan pengurangan. Namun, masih belum bisa menulis dengan rapi dan benar. Karena itu, ketika membimbingnya untuk menulis membutuhkan lebih banyak kesabaran karena dia kurang suka di suruh untuk menulis. 


Di sinilah dibutuhkan kesabaran lebih, ketekunan sebagai guru pengganti, serta kedisiplinan. Kesabaran dibutuhkan saat anak merasa sulit dan belum bisa menulis dengan rapi seperti yang diminta oleh guru yang bersangkutan. 


Dalam hal ini juga dibutuhkan ketekunan bagi orang tua yang membimbing anak belajar di rumah agar tidak terganggu dengan kegiatan lain selain belajar. Karena biasanya jika anak belajar di rumah pikirannya tidak mudah fokus untuk belajar. Hal ini disebabkan kegiatan lain di rumah seperti bermain, nonton TV, ngemil dan sebagainya. 


Selain itu, sebagai orang tua juga harus memiliki sikap disiplin agar anak bisa selalu tepat waktu dan belajar sesuai jam belajar yang ditentukan dari sekolah. Sehingga tugas-tugas yang diberikan oleh guru bisa selesai dan tidak menumpuk. 


Selain beberapa hal di atas tentu masih banyak hal yang dibutuhkan orang tua untuk mendukung peran menjadi guru di rumah. Kenapa di sini saya sebut guru, karena khususnya yang memiliki anak usia sekolah dasar masih belum bisa belajar secara mandiri. Untuk itu, saat belajar di rumah orang tua haruslah menjadi guru yang membimbing, mendidik, sekaligus mengajarkan materi yang diberikan oleh guru di sekolahnya. 

Sumber gambar : Pixabay